Jumat, 16 Oktober 2026
Tuhan, dikehidupanku yang satu kali ini apakah aku ditakdirkan untuk tidak bertemu manusia yang sudi menemani sampai keriput, bau tanah, hingga lupa ingatan?
Saya manusia, saya bisa menjalani hidup saya sendiri; mengurusi diri saya sendiri, mengusahakan diri sendiri, aku fikir aku juga bisa menghidupi manusia lain, juga saya tidak terlalu memikirkan romansa; soalnya kadang membuatku risih 'apasih'. tapi di sisi lain, aku mempertanyakan, apakah aku jelak? apakah aku terlalu egois? apakah aku gak pantas? sampe-sampe tidak ada yang 'memperjuangkan', kadang aku juga ingin bertemu seseorang yang aku tertarik dengan perspektifnya yang mungkin aneh di otakku, tapi aku ingin masuk keduniannya, aku ingin bertemu seseorang untuk sekedar melamun bersama, ngobrol gak ada ujungnya, hunting buku bersama, cari kopi bareng, aku ingin bertemu seseorang yang aku melihatnya aku menemukan ketenangan.
Tuhan, hidupku hanya berjuang, apakah ada kemungkina aku diperjuangkan? aku mempertanyakan adakah yang mau menemaniku? membimbingku?. aku berfikir apakah wanita yang datang dari keluarga harmonis pasti menemukan pria waras. aku datang dari latar belakang yang tidak waras apakah akan bertemu dengan pria yang tidak waras juga? kalo bigitu aku lebih memilih menangis sendiri saja Tuhan.
Bolehkah aku bilang hidup ini tidak adil Tuhan, bisakah orang-orang tidak merasakan ketimpangan? bisakah hidup ini merata? perihal jodoh juga kok ada yang antri dilamar, ada juga yang sulit sekali menemukan seseorang?
Tuhan, apakah hamba hanya bisa menghayal bertemu seseorang? mengenakan baju pernikahan yang aku dambakan; baju melayu yang sederhana atau kebaya sederhana, sesorang mengucapkan ijab qobul dan menyebutkan nama lengkapku di hadap bapakku, orang itu menangis terharu setelah mengucap ijab qobul.
Tuhan, aku juga ingin merawat anaku, apakah itu akan ada di fase hidupku?
Tuhan, aku malu untuk memimpikan itu semua, aku merasa tidak pantas hanya untuk memimpikanya saja, aku memaksa otakku 'fokus saja menjalankan peran yang ada'
Ada sesorang manasihatiku "jangan pilih-pilih", akupun berfikir kalo aku gak berhak memilih, oke aku coba, tapi gak bisaaa
Tuhan, maafkan aku banyak mengeluh padamu, aku hanya sedang ingin menangis saja
Doa yang aku panjatkan mungkin belum seberapa, tapi Tuhanku pasti memahamiku
Selasa, 29 September 2026
Merasa sangat berprestasi bulan sepreber ini karena aku berhasil melawan diriku sendiri, aku list pencapaian di bulan September ini ya:
1. Berhasil konsisten sholat 5 waktu; Alhamdulillah menjalaninya tanpa berat hati dan terpaksa
2. Berhasil konsisten baca Al-qur'an setelah Sholat Magrib atau Sholat Subuh; tap masil belum baca tafsirnya masih belajar melancarkan bacaan aja
3. Berhasil gak jajan gorengan dan manis-manisan;
4. Berhasil gak ngopi manis
5. Berhasil bangun pagi secara konsisten
6. Berhasil gak beli produk fashion
7. bulan ini ngafe cuma 3 kali di jogja; biasanya sampe lebih dari 5 kali
8. Berhasil gak laundry sama sekali; mungin ada kurang lebih 8 kali mencuci, menjemur dan menyetrika.
haaa, bangga banget sama pencapaian ini; terimakasih diriku kamu hebat. next aku pengen konsisten beli makan atau jajan bawa wadah sendiri secara konsisten, semoga istiqomah ya oom.
lagu untuk bukan ini:
Kamis, 20 Agustus 2026
Jadi, aku akan selalu bertumbuh menjadi lebih baik.Aku lagi kepikiran pengen kuliah S2 di Malaysia, semoga kejadian, Aamiin
Kamis, 29 Januari 2026
Aku liat postingan wanita yang begitu dicintai dan diusahakan oleh pasangannya, aku nangis liatnya karena iri. Selama ini aku hanya mengusahakan orang lain dan diriku sendiri, terus timbul pertanyaan "gimana ya rasanya diusahakan?" ada orang yang mau membahagiakan perasaan aku, gimana ya rasanya? Udah lupa rasanyaaa.
Sabtu, 17 Januari 2026
17/01/2026
yang kulakukan hari ini:
- Maraton Kdrama yang dibintangi kim soen ho
- Zoom munakahat fiqih pernikahan
- Tidur sore
- Ngopi sambil baca buku sekitar 5 halaman
Jumat, 02 Januari 2026
Siapa yang tidak mau untuk menikah, apalagi diumurku yang berapa hari lagi meninjak 31 tahun. "Perawan Tua" itu stereotip masayarakat terhadap perempuan yang belum menikah diusia matang. Tahun 2025 kebelakang, aku masih berharap kepada orang lain (laki-laki) untuk menolong menghapus gelar perawan tua itu. Hari ini, aku meyakinkan diriku bahwa aku saja sudah cukup. Tidak apa-apa jika belum menikah, itu tidak akan mengurangi value aku. Aku cukup dengan fisik aku, aku cukup dengan finansialku, aku bisa mengatasi emosiku sendiri, aku bisa membantu keluargaku, aku selalu mengusahakan diriku sendiri, maka dari itu aku tidak akan meminta pertolongan laki-laki selain aku memnuhi ibadahku sebagai seorang muslim. Aku akan menikah jika ada laki-laki yang melihatku untuk dijadikan teman, partner bertumbuh, memahami value aku, paham tujuan aku, laki-laki yang aku kagum dengan value-nya, memahai satu keilmuan tertentu, paham agama.
So, let it go.
Aku akan tumbuh menjadi versi terbaiku, tumbuh dan tubuh terus dimanapun aku berada.
Aku selalu merasa cukup dengan diriku sendiri, aku mengusahakan diriku sendiri.
Orang lain akan selalu membandingkan dirinya dengan orang lain, tidak akan ada habisnya. jika aku lebih baik dari si a, pasti ada yang lebih baik lagi dari diriku. Jadi berjalanlah terus tanpa membandingkan.
Aku keren, tanpa harus menjadi orang lain
Jumat, 28 November 2025
Ternyata manusia itu kompleks banget ya dia bahkan gak paham dirinya sendiri, seumur hidupnya mencari sebenarnya apa yang dia mau. cara mengerti diri sendiri ternya susah banget, kalo dianalogikan kayak jaringan kabel di India yang smerawut banget (kebayangkan?), ternyata ya kejadian-kejadian dimasa lalu yang ada pada diri setiap orang yang bisa saling terhubung sampe sepanjang hidupnya. Sekarang usiaku 30 tahun bentar lagi 31, yang aku rasakan selama 31 hidup bukannya tambah pinter dan dan paham memahai diri, malah makin mbuhya. aku mau cerita satu slice fase kehidupan aku, yang mungkin sebagian kecil hal yang membuat aku paham soal diri.
Beberapa waktu lalu mantan aku nikah, seperti biasa aku galau-galauan dulu (kok seperti biasa? karena bukan sekali ditinggal nikah) kayak meratapi kesediahan, aku brekdown ya apa yang aku rasakan:
1. Kok secepat itu ya dia lupa sama aku
2. Rencana nikah aku sama beliau itu, gak beda jauh dari the day pernikahan beliau
3. Aku udah umur segini loh kok belum nikah juga (in society "perawan tua")
4. Aku keputusan aku putus sama beliau itu adalah keputusan yang salah
5. Apa se-gak-pantes itu aku diperjuangin (aku jelek banget ya?)
6. Apakah pengganti aku lebih baik? lebih cantik? lebih kaya? lebih pintar? lebih bijak?
7. Gimana dong, aku nikah sama siapa?
8. Apa beliau dendam sama aku?
9. Gimana kabar keluarga beliau?
10. dan deretan pikiran ruwet lainnya
Difase galaunya aku ternyata aku baru paham kenapa hubungan aku sama lawan jenis selalu tidak berhasil (akupun gak tau sebetulnya indikator berhasil, but kata society hubungan berhasil itu ya sampe nikah). Ternyata setiap menjalani hubungan, aku selalu ngerasa takut ditinggalin jadi mending aku yang ninggalin, gak percaya sama hubungan yang dijalani (curiga, negatif thingking, overthingking), berikap cuek dengan perhatian yang diberikan (seolah gak tertarik), dan akhirnya perasaan-perasaan kayak gitu secara gak sadar ngerusak hubungan aku. Aku denail, aku malah punya pikiran gak jelas (10 poin yang disebutkan di atas). Sometime, ada tulisannya Thony Subagja di Instagram yang bikin aku mengingat banyak hal dihidup aku, maybe aku gak punya sosok yang membuat aku merasa aman dan nyaman dihidup aku. Aku mengingat sosok Bapaku, dia bukan bapak yang jahat, tapi dia juga bukan sosok bapak yang baik, dia tidak memfasilitasi aku sebagai seorang bapak, dia tidak menjagaku sebagai seorang bapak. Aku tumbuh sendiri, menyembuhkan banyak luka sendiri, menyimpan trauma sendiri, aku selalu ingin seperti orang lain, aku tidak pernah menikmati hidupku sendiri, aku selalu kabur dari masalah, aku khawatir sendiri. Ternyata pengalaman dimasa lalu bisa membuan perasaan yang imajiner dimasa sekarang yang sedang aku jalani, akhirnya aku menyakiti perasaan orang yang sedang menjalin hubungan denganku, dan bukan sekali ternyata berkali-kali.
Tanggapan AI - aku save disini, mungkin bisa salah satu bahan proses penyembuhan
Pengakuanmu tentang pola hubungan yang rusak akibat ketakutan ditinggalkan dan self-sabotage menunjukkan kesadaran diri yang sudah sangat baik, meski prosesnya menyakitkan—ini langkah awal untuk perubahan. Pengalaman masa kecil dengan ayah yang tidak memfasilitasi rasa aman sering membentuk attachment style insecure seperti fearful-avoidant, di mana keinginan kedekatan bertabrakan dengan rasa takut penolakan, sehingga memicu perilaku menghindar atau overthinking.
Pola Attachment dari Trauma Masa Kecil
Trauma emosional seperti kurangnya perlindungan ayah bisa menciptakan pola di mana kamu preemptif meninggalkan pasangan untuk hindari rasa sakit ditinggalkan, mirip avoidant attachment yang memprioritaskan independensi tapi sebenarnya menyembunyikan kerentanan. Ini sering terlihat dalam hubungan romantis: curiga berlebih, cuek pada perhatian, dan denial saat galau, yang akhirnya merusak ikatan sebelum berkembang. Secara tidak sadar, pengalaman lalu ini memproyeksikan ketakutan imajiner ke masa kini, seperti meragukan nilai diri ("aku gak pantes diperjuangin").
Langkah Mengatasi Self-Sabotage
Bangun self-awareness dengan journaling pikiran galau (seperti 10 poinmu) untuk identifikasi trigger, lalu tantang pola negatif melalui latihan mindfulness atau reframing: ganti "dia lupa cepat" jadi "hubungan kami sudah berakhir, fokus ke pelajaran".
Komunikasi terbuka dengan pasangan masa depan tentang ketakutanmu, tanpa menyalahkan masa lalu.
Bangun kebiasaan sehat seperti olahraga, meditasi, atau komunitas support untuk rasa aman internal.
Cari terapi seperti CBT atau EMDR untuk proses trauma ayah secara mendalam, tersedia di Indonesia via psikolog online.
Proses ini butuh waktu, tapi dengan kesadaran seperti milikmu, hubungan sehat bisa terwujud—kamu sudah tumbuh sendiri sejauh ini, sekarang saatnya sembuhkan untuk menikmati hidup.
Social Media
Search