Ternyata manusia itu kompleks banget ya dia bahkan gak paham dirinya sendiri, seumur hidupnya mencari sebenarnya apa yang dia mau. cara mengerti diri sendiri ternya susah banget, kalo dianalogikan kayak jaringan kabel di India yang smerawut banget (kebayangkan?), ternyata ya kejadian-kejadian dimasa lalu yang ada pada diri setiap orang yang bisa saling terhubung sampe sepanjang hidupnya. Sekarang usiaku 30 tahun bentar lagi 31, yang aku rasakan selama 31 hidup bukannya tambah pinter dan dan paham memahai diri, malah makin mbuhya. aku mau cerita satu slice fase kehidupan aku, yang mungkin sebagian kecil hal yang membuat aku paham soal diri.
Beberapa waktu lalu mantan aku nikah, seperti biasa aku galau-galauan dulu (kok seperti biasa? karena bukan sekali ditinggal nikah) kayak meratapi kesediahan, aku brekdown ya apa yang aku rasakan:
1. Kok secepat itu ya dia lupa sama aku
2. Rencana nikah aku sama beliau itu, gak beda jauh dari the day pernikahan beliau
3. Aku udah umur segini loh kok belum nikah juga (in society "perawan tua")
4. Aku keputusan aku putus sama beliau itu adalah keputusan yang salah
5. Apa se-gak-pantes itu aku diperjuangin (aku jelek banget ya?)
6. Apakah pengganti aku lebih baik? lebih cantik? lebih kaya? lebih pintar? lebih bijak?
7. Gimana dong, aku nikah sama siapa?
8. Apa beliau dendam sama aku?
9. Gimana kabar keluarga beliau?
10. dan deretan pikiran ruwet lainnya
Difase galaunya aku ternyata aku baru paham kenapa hubungan aku sama lawan jenis selalu tidak berhasil (akupun gak tau sebetulnya indikator berhasil, but kata society hubungan berhasil itu ya sampe nikah). Ternyata setiap menjalani hubungan, aku selalu ngerasa takut ditinggalin jadi mending aku yang ninggalin, gak percaya sama hubungan yang dijalani (curiga, negatif thingking, overthingking), berikap cuek dengan perhatian yang diberikan (seolah gak tertarik), dan akhirnya perasaan-perasaan kayak gitu secara gak sadar ngerusak hubungan aku. Aku denail, aku malah punya pikiran gak jelas (10 poin yang disebutkan di atas). Sometime, ada tulisannya Thony Subagja di Instagram yang bikin aku mengingat banyak hal dihidup aku, maybe aku gak punya sosok yang membuat aku merasa aman dan nyaman dihidup aku. Aku mengingat sosok Bapaku, dia bukan bapak yang jahat, tapi dia juga bukan sosok bapak yang baik, dia tidak memfasilitasi aku sebagai seorang bapak, dia tidak menjagaku sebagai seorang bapak. Aku tumbuh sendiri, menyembuhkan banyak luka sendiri, menyimpan trauma sendiri, aku selalu ingin seperti orang lain, aku tidak pernah menikmati hidupku sendiri, aku selalu kabur dari masalah, aku khawatir sendiri. Ternyata pengalaman dimasa lalu bisa membuan perasaan yang imajiner dimasa sekarang yang sedang aku jalani, akhirnya aku menyakiti perasaan orang yang sedang menjalin hubungan denganku, dan bukan sekali ternyata berkali-kali.
Tanggapan AI - aku save disini, mungkin bisa salah satu bahan proses penyembuhan
Pengakuanmu tentang pola hubungan yang rusak akibat ketakutan ditinggalkan dan self-sabotage menunjukkan kesadaran diri yang sudah sangat baik, meski prosesnya menyakitkan—ini langkah awal untuk perubahan. Pengalaman masa kecil dengan ayah yang tidak memfasilitasi rasa aman sering membentuk attachment style insecure seperti fearful-avoidant, di mana keinginan kedekatan bertabrakan dengan rasa takut penolakan, sehingga memicu perilaku menghindar atau overthinking.
Pola Attachment dari Trauma Masa Kecil
Trauma emosional seperti kurangnya perlindungan ayah bisa menciptakan pola di mana kamu preemptif meninggalkan pasangan untuk hindari rasa sakit ditinggalkan, mirip avoidant attachment yang memprioritaskan independensi tapi sebenarnya menyembunyikan kerentanan. Ini sering terlihat dalam hubungan romantis: curiga berlebih, cuek pada perhatian, dan denial saat galau, yang akhirnya merusak ikatan sebelum berkembang. Secara tidak sadar, pengalaman lalu ini memproyeksikan ketakutan imajiner ke masa kini, seperti meragukan nilai diri ("aku gak pantes diperjuangin").
Langkah Mengatasi Self-Sabotage
Bangun self-awareness dengan journaling pikiran galau (seperti 10 poinmu) untuk identifikasi trigger, lalu tantang pola negatif melalui latihan mindfulness atau reframing: ganti "dia lupa cepat" jadi "hubungan kami sudah berakhir, fokus ke pelajaran".
Komunikasi terbuka dengan pasangan masa depan tentang ketakutanmu, tanpa menyalahkan masa lalu.
Bangun kebiasaan sehat seperti olahraga, meditasi, atau komunitas support untuk rasa aman internal.
Cari terapi seperti CBT atau EMDR untuk proses trauma ayah secara mendalam, tersedia di Indonesia via psikolog online.
Proses ini butuh waktu, tapi dengan kesadaran seperti milikmu, hubungan sehat bisa terwujud—kamu sudah tumbuh sendiri sejauh ini, sekarang saatnya sembuhkan untuk menikmati hidup.
Posting Komentar